CAHAYA PETUNJUK TERKANDUNG TRADISI MASYARAKAT JATENG ( masyarakat di desa Hargosari)
NAMA :
PINGKI HANDAYANI
NIM :
175231138
JURUSAN : PERBANKAN SYARIAH { 1 D}
CAHAYA PETUNJUK TERKANDUNG TRADISI LUHUR
MASYRAKAT
JATENG
(
Masyrakat desa Hargosari )
Indonesia dengan negara akan
kecantikan kebudayaan dari setiap pulau-pulaunya. Masyrakat dari setiap pulau yang
ada di negara indonesia pasti memiliki suatu adat istiadat atau tradisi yang masih
di pegang teguh sampai sekarang. Khususnya saja masyrakat Desa Hargosari dengan
banyak sekali tradisi-tradisinya yang dalam setiap hal tersebut mengandung
makna terdalam akan sebuah peristiwa yang terjadi maupun yang akan terjadi.
Tidak hanya itu rakyat indonesia mempunyai berbagai macam kepercayaan kepada
sang pencipta, seperti halnya umat islam yang mempunyai tempat untuk beribadah
yang di sebut dengan Masjid. Masjid pada
mulanya mempunyai silsilah akan
berdirinya, melakukan kegiatan apa saja di dalamnya. Kebudayan, tradisi
termasuknya juga sebuah harta negara dan mencerminkan bagaimana kepribadian
bangsa indonesia itu sendiri. Kepribadian bangsa indonesia menjadikan tolak
ukur atas kebudayaan di negara lain. Harusnya bangsa indonesia bangga akan
harta yang di miliki di negara tercinta ini. Sebagai bangsa indonesia, sebagai
generasi peneru bangsa yang di banggakan dan di nanti-nantikan kita seharusnya
mencintai, memelihara serta melestarikan dengan penuh kasih sayang selayaknya
mencintai akan diri sendiri.
Kali ini saya ingin menarasikan sebuah
hasil observasi saya mengenai tugas Sejarah Peradaban Islam. Tepatnya, megenai
sejarah masjid beserta kegiatan-kegiatan yang di lakukan masyrakat dan kegiatan
yang dilakukan di masjid. Pada waktu
itu,tepatnya tanggal 21 oktober 2017. Saya, Observasi di masjid Nurul Huda yang
terletak di daerah Hargosari Rt 01/Rw 02 , Gatak Sukaharjo. Saya tertarik mengunjungi desa tersebut karena daerahnya
dekat dengan tanggul indah, atau sering di sebut dengan perbatasan Tanggul Indah.
Saya observasi sekitaran pukul setengah tiga (14.30 WIB) saya mengunjungi desa
terebut karena bagi saya ada sesuatu yang merasa aneh di mata saya, kita harus
melewati jembatan yang kecil untuk bisa masuk desa itu,mungkin hanya kendaraan
roda dua dan roda empat seperti mobil avanza dsb yang bisa masuk. Misalkan
seperti truk besarpun tak bisa masuk. Setelah masuk ke desa tersebut suasanannya sunyi,sepi dan
bukan langsung masuk ke jalan utama rumah setiap masing-masing warga. Akan
tetapi, saya pun langsung menelusuri jalan yang rusak berkerikil, berbelok ke
arah kiri lalu ke kanan. Saat saya masuk ternyata setiapa warga yang tinggal
tidak begitu luas mempunyai lahan atau teras yang mereka miliki per rumah.
Saat sampai pada pertigaan jalan ternyata
dan tak saya sangka, saya melihat bangunan indah. Sebuah speaker yang terletak
di atas genting menandakan bahwa itu adalah sebuah bangunan masjid. Saya
langsung melihat terlebih dahulu masjid tersebut bahwa itu benar benar Masjid
atau bangunan Mushola. Ternyata yang saya temui tersebut benar-benar bangunan
Masjid. Saya langsung berhenti dan turun dari motor saya, berjalan memasuki
teras masjid melepaskan sepatu yang saya kenakan lalu, mengucapkan salam kepada
salah satu santriwati yang akan menunaikan salat ashar berjamaah. Bersama
dengan santriwan dan santriwati lainnya. Saya lalu bertanya apakah benar ini
masjid yang terletak di desa hargosari dan ternyata ia menjawab iya benar ini
masjid yang ada di desa yang mbak maksud (saya). Selanjunya, saya bertanya lagi
bolehkah saya tahu tentang siapa nama takmir masjid sini dan bolehkah saya
bertamu ke rumahnya. Lalu ia menjawab “boleh, nama bapak takmir sini bernama
Bapak Miftahul Huda”.
Saya langsung meminta untuk menunjukkan lokasi bapak takmir tesebut tinggal,
untuk saya mintai keterangan mengenai akan asal usul masjid yang saya kunjungi
waktu itu. Ia menunjukkan rumah sang takmir masjid sini ternyata, rumahya hanya
terletak di sebalah kanan masjid dekat dengan pondok. Lalu ada seorang kakek
yang bertanya kepada saya jika meminta informasi lebih jelas lagi langsung aja
ke diaman Bapak Takmir saja, seprtinya dia sedang ada dirumah. Saya langsung
berjalan ke arah rumah pak takmir dan saya berjumpa dengan istri dari beliau
yang bernama ibu nurul. Di situlah saya langsung menjelaskan maksud kedatangan
saya disini untuk keperluan apa,dan saya menjelaskan tujuan saya. Akhirnya ia
memperbolehkan saya memintai jawaban yang berkaitan dengan asal usul masjid
tersebut besrta tradisi yang masih di jalankannya.
Dapat
di samapaikan bahwa masjid Nurul Huda beserta kegiatan-kegiatan dan tradisi
yang masih di pegang teguh masyarakat terutama telah di uraikan di atas. Masjid
tersebut saya datengi di dalam ruangannya sudah ada kipas, tempat mimbar,
karpet, dan sudah berkeramik yang indah berwarna putih cream, cat yang berwarna
kuning dan hitam.
Di depan masjid sebelah kanan terdapat
tempat wudhu, di luar tempat laki-laki dan di dalam tempat wudhu bagi
perempuan. Masjid tersebut letaknya tinggi dan ada beberapa anak tangga untuk
masuk ke Masjid tersebut. Keramik anak tangga nya berwarna hijau bermotif.
Tembok luarnya belum semuanya di plester halus,masih terlihat tembok bata yang
masih terlihat baru di serambi masjidnya. Di masjid tersebut dahulunya mushola
yang berdiri kecil dan tidak ada serambi di sampingnya kerap dulu warga yang
solat anjing yang di peliharanya ikut masuk ke mushola dan membuat bingung
pemilik pondok.
Keunikannya Pada tahun 2006 gempa
jogja merubuhkan bangunan mushola dan membelah menjadi dua bagian bangunan,
retak dan bahaya jika di pake warga untuk beribadah. Akhirnya di perbaiki dan
di bangun massjid. Masjid yang ramai di datengi warga. Meskipun, bukan dari
warga tetangga masjid yang beribadah di situ melainkan warga yang jauh dari masjid
dekat dengan tanggul. Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri karena
pembangunannya di bangun oleh Habib Ali yang ikut mendirikan bagian dalam
masjid. Masjid yang tak pernah sepi pengunjung.
Pada tahun 1976. awal mula dari
masjid ini berawal dari sebuah Bangunan Mushola yang digunakan warga di desa
sini. Bangunan mushola, dahulunya hanya kecil tak sebesar bangunan masjid
sekarang ini yang besar mempunyai serambi atau teras masjid yang berdiri dekat
dengan pondok. Mushola dan pondok berdiri terlebih Bangunan Mushola baru
bangunan pondoknya yang berdiri. Mushola tersebut dahulunya berdiri dekat
dengan rumah bapak namun belum ada pondok seperti sekarang ini,iu juga
menjelaskan bahwa mushola ini dahulunya juga tidak ada yang merawatnya. Bangunan
pondok ini berdiri sekitar tahun 2000 yang terisi oleh sejumlah santriwan dan
santriwati. Mushola yang berdiri tersebut pada tahun sekitar 2006 rubuh dan
hancur karena ada gempa jogja yang membuat bangunan ini benar-benar hancur.
Saat itu ibu Nurul adalah pendatang dan tinggal di desa Hargosari sekitaran
tahun 2000an. Ia sebenarnya juga tahu akan kejadian yang menimpa mushola
tersebut dan tahu juga mengenai pembangunan masjid Nurul Huda ini.
Mushola ini dahulunya bernama mushola Nurul
Kharomah. Saat kejadian gempa jogja terjadi, bangunan ini di dalammnya retak
menjadi dua bagian atau sigar dalam bahasa jawa. Bapak takmir dan para warga
sangat mengkhawatirkan jika bangunan ini tetap di pakai dalam keseharian untuk
beribadah. Akhirnya, warga tidak begitu setuju jika mushola ini di rubuhkan dan
warga meminta agar di bangun sebuah masjid yang pas dan cocok agar dapat di
pakai warga dengan nyaman dan tenang. Akhirnya ada Habib Hasan yang ikut serta
dalam pembanunan masjid ini dengan memberikan bantuan dana kepada bapak takmir
supaya bisa mendirikan masjid ini. Saat itu ada dana dari dana pondok dan ada
dana dari habib hasan yang ikut menyumbang untuk mendirikan masjid ini. Habib
Hasan datang ke tempat mushola tersebut dan melihat kondisi sebenarnya yang
ada. Dari dana yang kecil dari pihak pondok di tambahi dengan dana dari Habib
Hasan, beliau meminta supaya pembangunan ini tetap terlaksana dengan awalnya
mendirikan bangunan atau bagian tengah masjid dahulu karena keterbatasan dana.
Dari keterbatsan dana yang ada tapi pembangunan tetap berjalan dan sudah ada
sampai sekarang ini yang bisa di manfaatkan warga muslim untuk beribadah
menyembah sang kuasa.
Seperti yang sudah di jelaskan di atas,
bangunan Mushola yang dahulunya berdiri sekitar tahun 1976 berdiri dari tanah wakafan dari seorang Gubernur
bernama Bapak Ali Hikam. Ia mengatakan bahwa ia tak sanggup mengelola tanah
yang ada dan akhirnyapun ia meminta untuk pindah tangan atas kepemilikan tanah
tersebut. Persoalan tentang siapa yang akan mengelola tanah ini tidak ada yang
jelas siapa yang benar mengelola tanah, akhirnya beliau mewakafkan kepada pihak
pengurus pondok yaitu bapak Miftahul Huda. Saat itu Mushola yang awalnya
bernama Nurul Kharomah, dengan pembangunan baru sekarang menjadi Masjid yang
bernama Nurul Huda.
Menurut Ibu Nurul dan bapak takmir, bahwa
nama dari Masjid tersebut di ambil dari nama Ibu Nurul dan Bapak Miftahul Huda.
Alasan dalam mengambil nama tersebut karena dalam proses pembangunan tersebut
sangat repot sehingga tak sempat mencarikan nama untuk masjid yang di
bangunnya. Nurul Huda kemudian di jadikan nama untuk masjid ini sampai saat ini
dan seterusnya.
Kegiatan-kegiatan yang ada di pedesaan
tepatnya desa Hargosari ada banyak macam salah satunya, Sadranan merupakan tradisi
yang dilaksanakan oleh masyrakat sebelum puasa ramadan dan Menurut dari pandangan ibu Nurul ia mengatakan
bahwa sadranan yaitu suatu kegiatan yang di lakukan pada waktu tanggal 21 Ruwah
atau bulan jawa istilahnya yang terdapat perhitungan tersendiri dalam hal
kejawenan. Pada hari sebelum puasa misal pada hari kamis sore,biasanya para
ibu-ibu memasak makanan untuk sebagai syarat atau pertanda bahwa besok akan ada
kegiatan puasa Ramadan. Kegiatan sadranan yang dilakukan tersebut berlangsung ramai
di lakukan oleh semua warga.
Sadranan dilakukan pada waktu pagi dan
malam. Waktu pagi masyrakat warga melakukannya di makam atau sareyan dan waktu
malam di lakukan di masjid dengan mengadakan tahlilan atau pengajian. Sadranan
yang di lakukan ternyata ada beberapa jenis makanan yang menjadi pelengkap
yakni nasi putih, lauk pauk seperti ayam jawa,apem dan telor. Minuman seperti
kopi teh atau apapun yang di sukai orang yang telah meinggal tersebut,
buah-buahan seperti buah pisang dan tak lupa air bunga. Makanan dari sadranan
tersebut biasanya di tempatkan di sumur, kamar kosong dan di sungai.
Waktu
sebelum puasa malamnya ada makanan yang di khususkan tersendiri bagi anggota
keluarga yang telah meninggal dunia,serta pemberian kepada leluhur. Banyak
orang tua beranggapan bahwa sebelum puasa tiba di percaya sejak dulu
bahwasanya, anggota keluarga yang telah meninggal akan pulang kerumah untuk
sekedar menengok sanak keluarganya.
Uniknya dalam tradisi sadranan ini yakni
di buat sore hari dan di letakkan di kamar kosong dan tidak boleh ada yang
merecoki makanan tersebut sampai sebelum
waktu sahur tiba. Menurut orang jawa mengapa di lakukan tradisi ini
secara rutin sebelum ramadhan? Jawabannya. Karena, mereka masih percaya ini
sebagi bentuk tradisi menyambut bulan suci ramadan,dan ada bagi sebagian orang
untuk saat ini ada yang masih mempercayai dan melakukannya dan ada pula yang
sudah tak menggapnya /mempercayainya dan melakukannya. Mungkin, dari
sebagianorang mempunyai pandangan tersendiri akan hala atau kaitannya dengan
tradisi yang ada di pulau Jawa.
Tradisi sadranan merupakan warisan
leluhur dari sejak dulu dan di lestarikan secara turun temurun dari orang-orang
terdahulu. Makanan yang ada dalam sadranan mempunyai manfaat tersendiri bagi
yang masih hidup namun, juga di sertai do’a-do’a yang sangat bermanfaat bagi
mereka yang sudah tiada atau di lakukannya dengan maksud tujuan dan niat yang
jelas dan baik pula.
Masyarakat di desa ini kebanyakan masih
susah untuk menjalankan salat 5 waktu. Banyak dari warga yang salat itu warga
yang tempat tinggalnya jauh dengan Masjid sedangkan, yang dekat dengan masjid
sangat susah untuk beribadah terutama salat 5 waktu. Masyarakat yanga ada di
sini sebagian yang tidak menjalankan salat tapi ia pada waktu bulan suci
Ramadan tetap melaksankan puasa ramadan. Anehnya itu kenapa salat wajib 5 waktu
yang harus di kerjakan tapi malah tidak di kerjakan. Pasti dari warga tersebut
memiliki persepsi tersendiri akan pendapatnya akan hal itu. Manusia pasti
mempunyai suatu pandangan dan keyakinan yang berbeda-beda, dari situlah kita
sebagai makhluk sosial seharusnya mempunyai sikap saling menghargai satu sama
lain, tak boleh memaksa seseorang harus berbuat bagaimana karena mereka sudah
memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Semua itu kita kembali pada diri kita
masing-masing bagiamana kita dapat menyikapi semua persoalan yang ada itu
sesuai atau tidak dengan fakta yang ada.
Kembali tentang Masjid, jamaah masjid di
sini jika salat magrib dan isya’ rata-rata mencapai 99 % ujarnya Ibu Nurul.
Jama’ahnya pada waktu ramadan dan hari biasa terkadang dari remaja desa sini
dan ada pula dari warga sini. Waktu malam jum’at masjid ini di gunakan untuk
solawatan dan tahlilan bersama masyarakat.Tapi, masjid ini sebenarnya dahulunya
juga di pakai untuk kegiatan mengajar anak-anak TPA/TPQ tapi sekarang tidak di
pakai lagi.
Kegiatan setelah salat idul fitri yang di
lakukan di masjid sini yaitu, adanya pengajian kecil-kecilan dan halal bihalal
bersama dan di lanjutkan lagi setelah pulang dari masjid para warga
melakukannya halal bihalal dengan para tetangga dan sanak keluarga. Dalam
masyarakat di desa Hargosari sistem perekonomian yang di lakukan sehari-hari
yaiutu petani, bekerja di pabrik dan ternak hewan terutama hewan Babi dan waktu
ibu Nurul datang di dasa sini rata-rata dari warga yang mempunyai anjing
sekitar 50-70 %. Pernah ada kejadian saat sang majikan atau sang pemilik anjing
tersebut masuk masjid, anjing yang di milikinya ikut masuk ke dalam masjid
dengan istilah”melu ndorone” dari kejadian itu ternyata najis anjing lah yang
membuat resah sangpengasuh pondok dan Ibu Nurul, ia membersihkan lantai masjid
setiapa kali anjing itu ikut masuk masjid padahal, anjing tersebut sudah di
usir akan tetapi tetap tak mau pergi karena dalam masjid tersebut ada sang
pemilik yang sedang solat. Mungkin sang pemilik anjing tersebut tidak tahu akan
najis anjing itu sebenarnya adalah najis berat.Menurut dari Ibu Nurul jika
memelihara hewan anjing dan itu
menurutnya haram akan tetapi jika tidak memakannya juga lebih tidak haram.
Jika, akan makan daging tersebut sebenarnya haram menurut islam.
Tradisi yang kedua dalam masyarakat jawa
yaitu Kirim Punden. Menurut orang jawa tradisi atau kegiatan yang dilakukan
waktu kirim punden seperti ke makam, membawa makanan dan minuman serta membawa
kemenyan hala itu di lakukan pada waktu setiap malam jum’at lebih tepatnya di
lakukan pada hari kamis sore atau malam jum’at dengan makan di sana. Setiap
malam jumat itu di lakukan tahlilan bersama di masjid. Waktu kirim punden itu
masyarakat di makam melakukan kegiatan bersih-bersih dan menaburkan bunga di
atas makan orang yang sudah meninggal terutama sanak keluarganya yang telah
tiada. Orang jawa mengistilahkan jika
menabur bunga di atas makam itu ibarkan memintakan maaf atas kesalahaan orang
yang telah tiada tersebut kepada sang Maha Kuasa. Karena di jawa tak ada daun
kurma unuk di taburkan di atas makam maka, penggantiya yaitu bunga mawar
alasannya banyak orang yang punya dan sudah dari dulu memakai bunga tersebut,
kegiatan itu di lakukan warga dengan suasan ramai.
Kegiatan yang di lakukan di masjid
selain di atas ada lagi, di masjid dillakukan yasin dan tahlilan bersama-sama.
Yasin yang di lakukan pada waktu memperingati tujuh hari, empat puluh hari dan
seratus maupun seribu hari itu di desa hargosari sudah mulai berkurang tapi
sebagian masih ada yang melakukannya. Misal tahlilan biasanya yang melakukannya
orang-orang pondok karena banyak warga yang
fahamny berbeda dengan yang lainnya. Semua orang berhak untuk mempunyai
suatu faham dan pandangan tersendiri,tinggal bagaimana aja kita menerapkannya
dan kita niati aja dengan baik.
Kembali
dengan yang di atas tadi tentang penjelasan akan tradisi kirim punden. Ada
penyebutannya kalau kirim punden itu di lakukan di sendhang-sendhang yang di
anggap kramat. Dahulunya ada ceritannya tentang kirim punden ini yaitu ada
seorang mbah yang sudah tua sekali jika meminta sesuatu yang dia inginkan
dengan datang di makam yang di anggap kramat akan memperoleh sesuatu tersebut
sesuai dengan permintaan kita. Sebenarnya, orang yang di maksud tersebut
dahulunya bukan seorang yang sakti,dia juga tidak salat tapi jika ia meminta
apapun di berikan. Makam yang di maksud sebagian timur itu milik keraton dan bagian yang lain miliknya masyrakat.
Masyarakat
di desa yang rutin di masjid orang-orang yandg sudah tua sudah tidak begitu
solat di masjid hanya yang muda mudinya. Anehnya itu jika waktu salat seperti
biasanya atau solat wajib ini mereka tidak melakukannya tapi jika waktu puasa
ramadan tiba mereka malah rutin berpuasa. Mungkin, mereka mencari pahala yang
besar pada saat puasa.
Masjid di sini juga selalu di pakai
untuk berbagi takjil atau berbuka puasa bersama dengan masyarakat. Takjil yang
di buat ini berasal dari masyarakat yang ia berikan sebelum waktu sebelum
magrib dan di bagikan saat berbuka puasa dan saat sehabis salat terawih. Per
hari masyarakat yang membuat takjil di masjid ini sehari 4 orang yang
membuatnya.
Kondisi masjid di sini itu setiap harinya
tak sepi, waktu salat dhuhur dan ashar, salat magrib dan isya’ serta solat
subuh itu selalu ada orang yang salat jamaah bersama. Masjid di sini melakukan
salat jumat baru di mulai tahun ini sebelumya masjid ini tidak di pakai untuk
salat jumat. Salat jumat yang di lakukan setiap minggunya itu di lakukan di
masjid sebelah karena mereka mengangap jamaah nya tak sampai dengan 40 jamaah.
Akan tetapi masjid ini sesudah mempunyai serambi dan sudah banyak jamaah yang
solat jumat sudah mencapai syarat sudah di gunakan untuk salat juma’t bersama.
Kegiatan
yang di lakukan di masjid sini dahulunya sebenarnya juga ada kegiatan TPA/TPQ
untuk anak-anak yang ingin belajar Al-Qur’an, tapi sekarang sudah tidak ada
lagi karena yang di berikan amanah orang yang mengajar di sini pindah ke masjid
sebelh dekat dengan tanggul. Akhirnya para anak-anak berhenti mengaji dan
mencari pengajar seperti biasanya dan mengaji di masjid sana. Akan tetapi
meskipun masjid sini tidak di gunakan untuk TPA/TPQ lagi dan mulai sepi
sekitaran 3-4 tahunan masjid sini ramai selalu di gunakan anak-anak santri
untuk menagaji sehabis ashar terutamanya lagi waktu puasa tiba atau ramadan
tlah tiba.
Kontribusi
bagi sejarah peradapan islam tentang materi di atas menurut saya adalah dengan
alasan, bahwa kegiatan atau tradisi islam yang di lakukan sebelum puasa yang
ada di masyrakat dari dahulu sampai sekarang. Layaknya misal, seperti tradisi
sadranan itu di dalamnya terkandung nilai-nilai yang memuat tentang sebuah
kepercayaan manusia dengan sang pencipta. Dalam tradisi ini kontribusi nya
dapat mengungkapkan sejarah akan keunikan dari sebuah tradisi yang semakin
hilang dari era zaman sekarang. Dengan
contoh pemberian bunga di atas makam menandakan memintakan maaf atas kesalahan
orang yang meninggal pada sang khalik (pencipta).
Komentar
Posting Komentar